PUASA BAGI PEMAIN SEPAK BOLA MUSLIM DUNIA

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang sangat diistimewakan oleh Allah, dimana setiap muslim diwajibkan berpuasa tak terkecuali para atlet atau pemain sepak bola. Tapi tak semua pemain muslim menunaikan ibadah puasa, ada juga yang membatalkan puasa karena jadwal pertandingan yang padat. Baru-baru ini Organisasi Muslim dan otoritas sepak bola Jerman menetapkan bahwa mereka membebaskan pemain sepakbola profesional yang muslim boleh tidak berpuasa selama bulan suci Ramadhan apabila sedang latihan dan bertanding. Sebelumnya salah satu klub di Jerman memiliki klausul kontrak yang menyatakan bahwa para pemain tidak diizinkan berpuasa, tanpa persetujuan. Sehingga, Dewan Pusat Muslim Jerman harus meminta nasihat dari Institut teologi unggulan Islam Sunni, Al-Azhar di Mesir dan di tempat lainnya. Menurut Al-Azhar, jika seorang pemain sepakbola terikat sebuah kontrak yang merupakan satu-satunya sumber penghasilannya, jika dia harus bermain di bulan Ramadan, dan jika berpuasa mempengaruhi performa, maka dia boleh tak berpuasa.
Majelis Riset dan Fatwa Eropa ternyata juga mendukung pernyataan tersebut. “Mereka bisa berpuasa di hari-hari di mana tak ada pertandingan, sehingga dengan begitu tetap menghormati Allah dan juga bulan suci Ramadan,” kata Sekjen Dewan Muslim Aiman Mazyek. “Menjaga tubuh agar tetap sehat juga memainkan peranan penting dalam agama Islam,” imbuh Mazyek.
Berikut nama-nama pesepak bola muslim dunia:
1. Mesut Oezil (Jerman) 2. Zinedine Zidane (Prancis) 3. Youri Djorkaeff (Prancis) 4. Nicolas Anelka (Prancis) 5. Samir Nasri (Prancis) 6. Eric Abidal (Prancis) 7. Lilian Thuram (Prancis) 8. Frank Ribery (Prancis) 9. Mahamadou Diarra (Prancis) 10. Lassana Diarra (Prancis) 11. Zlatan Ibrahimovic (Swedia) 12. Mohammed ‘Momo’ Sissoko (Mali) 13. Frederic Kanoute (Mali) 14. Robin Van Persie (Belanda) 15. Khalid Boulahrouz (Belanda) 16. Lee Woon Jae (Korea Selatan) 17. Hasan Salihamidzic (Bosnia) 18. Kolo Toure (Pantai Gading) 19. Ahmed Mido Hossam (Mesir) 20. Amr Zaki (Mesir) 21. Idriss Kameni (Kamerun) 22. Yaya Toure (Pantai Gading) 23. Pascal Cygan (Prancis) 24. Serdar Tasci (Jerman) 25. Sulley Muntari (Ghana) 26. Hossam Ghaly (Mesir) 27. Hamit & 28. Halil Antiltop (Turki) 29. Nuri Sahin (Turki) 30. El-Hadji Diouf(Senegal) 31.Diomanssy Kamara 32. Mohammed Kallon (Sierra Leonean) 33. Sami Khedira (jerman) 34. Jawhar Mnari (Tunisia) 35. Abdelaziz Ahanfouf (maroko) 36. ibrahim afellay (Belanda) 37. Karim Ziani (Aljazair) 38. Nathan Ellington (Inggris) 39. Abdoulay konko (Senegal/Prancis) 40. Al-Habsi (Oman) 41. Mounir El Hamdaoui (Maroko) 42. Ismail Aissati (Belanda) 43. Arouna Kone (Pantai Gading) 44. Nabil El Zhar (Maroko) 45. Seydou Keita (Mali)
Komentar -komentar :
Frederic Kanoute (Mali): “Aku mencoba untuk menghormati dan mengikuti ajaran kepercayaan saya sebaik mungkin,” “Kadang memang terasa berat tetap berpuasa karena di Spanyol bagian selatan sangat panas, tapi, Alhamdulillah, aku bisa terus melakukannya.”
“Banyak sekali pesepakbola muslim yang tak banyak orang tahu di Inggris, Spanyol, Prancis atau kompetisi di negara lain. Tapi menjaga keyakinan dan berpuasa Ramadhan adalah bukanlah sesuatu yang harus diungkapkan kepada dunia,” jelas Kanoute.

“Secara pribadi, menjalankan tuntunan agama membantuku dalam bersepakbola dan sepakbola juga ikut membantuku tetap sehat dan menguatkanku. Tak ada konflik karena orang yang tahu tentang Islam, mereka tahu bahwa ibadah puasa itu malah menguatkan mereka yang menjalaninya, dan tidak malah melemahkan kaum Muslim.”,
Mesut Oezil (Jerman): Meski rajin membaca Al Qur’an, Oezil belum bisa menunaikan puasa Ramadhan berbarengan dengan karir sepakbolanya. Dilansir Qantara.de, Ozil sempat hampir pingsan karena menjalankan puasa saat harus bertanding di lapangan hijau. “Saya merasa lemah dan menderita sakit kepala,” ujar Oezil menjelaskan kondisi tubuhnya saat puasa dan harus bertanding,
Frank Ribery (Prancis): Untuk ibadah umat muslim yang satu itu, Frank Ribery, punya cara tersendiri. Bintang sepakbola Prancis yang bermain di klub Jerman, Bayern Munchen itu mengaku hanya puasa saat tidak bermain. “Saya berpuasa saat saya libur. Tapi ketika saya ada pertandingan, saya tidak bisa,” kata Ribery. Strategi ini diikuti Serdar Tasci (Jerman) dan Sami Khedira (jerman). Serdar Tasci : “memang dibutuhkan perjuangan ekstra bagi pesepakbola muslim dalam menjalani puasa selama bulan ramadhan” “Barangkali itu memang jadi perkecualian karena pemeluk islam disini bukan mayoritas. Tapi, itupun sebenarnya bisa disiasati,” katanya lagi. “Prisnsipnya, asupan kita harus sesuai dengan energi yang kita butuhkan, dan karena saya berpuasa, maka saat sahur asupan saya harus ekstra special,” katanya. Namun, katanya, ia hanya berpuasa saat sedang menjalani latihan. Jika menghadapi pertandingan, dengan berat hati ia tidak berpuasa, dan memilih membayar fidyah, serta mengganti puasanya di waktu mendatang. “ saya percaya Islam itu memberi kemudahan, dan bukan menyulitkan penganutnya. Karena itulah saya juga tak pernah merasa kesulitan selama disini” ujarnya. Lain halnya dengan Jawhar Mnari (Tunisia) dan Abdelaziz Ahanfouf (maroko)yang tetap berpuasa meski harus bertanding. Mnari mengaku tidak memiliki masalah apapun dengan puasa dan aktifitasnya di lapangan hijau. “Itu hanya perbedaan ritme saja, tapi bukan masalah bagi saya. Saya bangun pukul 03.30 pagi dan kemudian makan dan minum yang banyak,” ujar Mnari. “Hari-hari pertama memang berat. Tapi setelah Anda menemukan ritmenya, Anda akan baik-baik saja,” kata Ahanfouf yang sempat mencetak hatrick saat bertanding dalam keadaan puasa.
Namun, ada yang kerap mengganjal dari penggemar Ibrahimovic. Apakah Ibra seorang Muslim? Yup, berbeda dengan pebola Muslim lainnya seperti Frederick Kanoute atau Franck Ribery, status Islam Ibra jarang terdengar. seperti di tulis Ghozian Islam Karami /Sumber: Buku Legiun Muslim di Kancah Eropa, Agus AHA, Ibra dilahirkan di Malmo, kota terbesar ketiga di Swedia setelah Stockholm dan Gothenburg, 3 Oktober 1981. Kedua orangtuanya bukan warga asli Swedia, melainkan pasangan imigran yang berbeda Negara. Ayahnya yang bernama Sefik adalah imigran asal Bijeljina, Bosnia. Sedangkan sang ibu yang bernama Jurka lahir di Zadar, Kroasia. Keduanya bertemu di Swedia.
Ibra tumbuh di Rosengard, salah satu kawasan di wilayah Malmo. Kawasan ini cukup terkenal karena menjadi salah satu tujuan imigran Muslim yang masuk Swedia. Di kawasan ini, Ibra berinteraksi dengan sesama imigran Muslim. Mereka memilih kawasan tersebut agar lebih mudah menjalankan kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal menjalankan ibadah dan hubungan antar-sesama Muslim.
Kaum imigran Muslim di Rosengard memilih hidup sedikit terisolasi. Mereka tak ingin larut dalam urusan duniawi, yang menurut mereka bisa mengikis keyakinan. Mereka mencukupi kebutuhan dengan bekerja sesuai kemampuan dan menghasilkan uang.
Berbeda dengan kaum imigran Muslim di Gothenburg, mereka lebih membuka diri pada dunia luar. Kehidupan mereka jauh lebih mapan dan sejahtera. Lapangan pekerjaan yang mereka geluti juga beragam. Mulai dari kerja kantoran dengan jabatan strategis hingga buruh pabrik. Bahkan tak sedikit yang bekerja di Volvo, salah satu perusahaan mobil tekenal di dunia. Di tengah hegemoni kaum nonmuslim yang mengusai semua sektor kehidupan dan kentalnya budaya Barat yang mewarnai Swedia, Ibra tumbuh menjadi pemuda Muslim yang patut dicontoh. Kaum imigran Muslim Rosengard bangga mendengar Ibra sukses mewujudkan ambisi menjadi pesepakbola. Sebutir mutiara telah bersinar dari kaum minoritas. Kini setelah ia meraih berbagai prestasi dan telah menjadi public figure, sangat disayangkan status Islamnya jarang terdengar. Dalam suatu kesempatan bahkan ia mengakui kalau dirinya bukan seorang Muslim yang taat, tidak menjalankan shaum Ramadhan. Sungguh ironis, jika melihat “pendidikan” Islam yang telah diperolehnya di Rosengard dulu.
Afellay (Belanda) : “Saya tahu dan yakin kenapa harus tetap berpuasa. Tak ada seorangpun yang memaksaku untuk berpuasa. Ini keinginan yang timbul dari diri sendiri. Di bulan Ramadan ini seberat apapun latihan atau pertandingannya, membuatku tetap merasa kuat”. Ia mengenang saat-saat pertamanya masuk kamp latihan PSV. “Saat Ramadan, teman-teman, dan staf yang non muslim memintaku untuk makan dan minum menjelang atau sesudah latihan. Mereka khawatir kesehatanku terganggu. Tapi saya seorang muslim. Bagiku agama adalah nomor satu, dan itu jauh lebih penting dari sepak bola, “ujarnya.
Ziani (Aljazair) : Ramadan kali ini, Ziani mengikuti fatwa dari para ulama Jerman yang membolehkan pesepakbola muslim tak berpuasa saat bertanding. Namun, diluar pertandingan, saat hanya melakukan latihan, ia pun kembali melakukan puasa. Nah, saat tak ada pertandingan itulah,ingatan pemain terbaik Aljazair 2006-2007 ini melayang ke kampung halamannya. “Tak ada yang bisa menandingi atmosfer puasa di negara kami, suasananya sangat terasa. Siang hari semua makanan disimpan, dan malam setelah berbuka makanan itu tiba-tiba hadir dimana-mana. Suasana yang sangat menakjubkan“,ujar pria berdarah Aljazair-Prancis ini dalam wawancara dikuitip dari situs Al Heddaf.
Ellington (Inggris): Striker yang punya kecepatan tinggi ini tak mau hanya sekedar jadi non practising muslim alias ‘islam KTP, yang sekedar percaya kepada Allah tapi tak menjalankan kewajibannya seperti shalat, puasa, zakat,dll. “Yes, I’m practising muslim” katanya dengan penuh kebanggaan. Ramadan tahun ini untuk pertama kalinya ia melakoni puasa di negri orang, Yunani. Ellington memang dipinjamkan Derby Country ke salah satu tim raksasa Yunani, Skoda Xanthi. Dan di negri para dewa itulah ia merasakan beratnya berpuasa. “waktu puasa disini tak terlalu lama seperti di Inggris, namun panasnya itu yang luar biasa. Benar-benar membuat tenggorokan kering, seperti terbakar. Sejak Ramadan aku telah tiga kali bermain dalam kondisi berpuasa” ujarnya seperti dikutip dari The Sun.
Al-Habsi (Oman) : “Jika hanya latihan, saya pasti akan berpuasa di bulan Ramadan. Namun kalau bertanding, saya terpaksa harus mengkonsumsi makanan bergizi agar bisa tampil dalam performa terbaik”. “Bagi yang belum biasa berpuasa, pasti agak sedikit lemas saat harus berlatih keras. Namun saya sudah biasa berpuasa sejak usia sepuluh tahun. “Semua pelatih dan rekan-rekan tak ada yang protes dengan apa yang aku lakukan. Mereka bahkan berusaha menghormatinya. Ini bentuk toleransi yang sangat indah,” katanya. Seperti yang dikatakan pelatihnya saat di Lyn Oslon, Swedia, Hans Knutsen: “Pasti sangat berat berlatih keras seharian saat berpuasa, tapi saya pikir mereka punya kontrol yang bagus untuk mengelola itu. Kami menghormati dan tak pernah mencampuri cara Alhabsi beribadah,”katanya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 791 other followers

%d bloggers like this: