Istri Yang Bisu, Buta, Tuli dan Lumpuh

Konon dahulu kala, seorang musyafir melakukan perjalanan yang jauh. Dalam perjalanannya yang sudah memakan beberapa hari, sampailah dia pada satu areal perkebunan. Perkebunan tersebut adalah perkebunan buah-buahan yang sedang masa siap untuk panen.

Dalam dia melewati perkebunan tersebut, dia menemukan buah apple yang terjatuh dan banyak buah apple yang mulai membusuk di tanah karena tidak ada yang mengambil buah-buah yang berjatuhan tersebut. Melihat buah appleyang baru jatuh dan masih segar, maka tergeraklah hatinya untuk mengambil buah tersebut dan kemudian memakannya. Dalam hatinya berpikir, sayang kalau buah tersebut dibiarkan membusuk sedangkan tidak ada yang mengambil buah-buah yang berjatuhan.

Setelah selesai menikmati buah apple, akhirnya sang musyafir mensyukuri tentang nikmat yang telah didapatkannya dengan buah tersebut. Dalam rasa syukur tersebut mulai terpikirkan olehnya, apakah buah apple yang telah dimakannya tanpa seijin pemilik buah tersebut halal baginya?

Setelah merenung sejenak, akhirnya dia berkesimpulan bahwa buah yang barusan dimakannya tidaklah halal, karena dia belum mendapatkan ijin dari pemiliknya untuk menikmati buah tersebut, sekalipun buah tersebut adalah buah yang terlantar karena tidak dipetik oleh pemiliknya.

Maka untuk mendapatkan kehalalan atas buah yang telah dimakannya, dia bertekat untuk menemui sang pemilik buah untuk mendapatkan kehalalan, karena dia tidak ingin mendapatkan azab atas makanan yang tidak halal baginya.

Kemudian dia berjalan untuk menemui pemilik perkebunan, tapi dia tidak menemukan seseorangpun dan dia hanya bertemu dengan seseorang yang juga sedang lewat, dan dia mencoba untuk mencari tahu pemilik perkebunan tersebut.

Oleh orang tersebut disebutkan bahwa pemilik kebun tersebut tidak tinggal didaerah ini, tapi jauh dari situ dan harus menempuh perjalanan beberapa hari.

Mendapat penjelasan orang tersebut dan rasa bersalah yang ada pada dirinya karena telah memakan barang yang tidak halal baginya, maka dia bertekat untuk menemui pemilik buah sekalipun harus ditempuhnya dalam beberapa hari.

Setelah melakukan perjalanan, maka sampailah dia kepada pemilik perkebunan tersebut dan menemui sang pemilik untuk menjelaskan maksud kedatangannya.

“Tuan, saya datang kesini dari perkebunan tuan, karena saya telah mengambil satu buah apple yang ada di perkebunan tuan. Saya merasa berdosa, karena saya telah mengambil buah tersebut tanpa seijin tuan, dan kemudian buah tersebut telah saya makan. Buah itu tidak halal bagiku sebelum mendapat keikhlasan dari tuan atas buah yang saya makan. Maka saya mohon agar tuan bisa mengikhlaskan dan menghalalkan buah yang telah saya makan.” Sang musyafir memohon kepada sang pemilik buah.

“Tidak bisa, aku tidak merelakan buah yang telah kau ambil dan kau makan tanpa seijinku” jawab sang pemilik buah.

Mendapat jawaban yang tidak diduga tersebut, maka sang musyafir merasa sangat bersalah, karena setelah menempuh perjalanan sekian jauhnya hanya untuk mendapatkan ijin dan keikhlasan sang pemilik atas satu buah apple yang telah dimakannya, ternyata permohonannya ditolak.

Kemudian sang pemilik buah melanjutkan : “Saya akan memberikan ijin dan keikhlasanku kepadamu atas buah yang telah kau makan dengan satu syarat”

“Apa syaratnya tuanku”, jawab sang musyafir.

“Kau harus kawin dengan putriku” jawabnya.

Sang musyafir mulai berpikir, apakah maksud sang pemilik buah untuk mengawinkan putrinya dengan dia, padahal dia hanya telah mengambil satu buah apple yang jatuh di kebunnya, kalau tidak diambilpun, akan menjadi busuk dan tidak berguna. Seharusnya sangsi atau hukuman yang diberikan kepadanya, tapi malah dia diminta untuk mengawini putrinya.

Sang pemilik buah melanjutkan tawarannya:

“Saya akan ikhlaskan buah yang telah kamu makan, tapi syaratnya kamu harus kawin dengan putriku. Perlu kamu ketahui, putriku adalah orang yang bisu, buta, tuli, dan lumpuh”

Mendengar jawaban sang pemilik buah, sang musyafir baru mengerti maksud sang pemilik buah, agar dia mengawini putrinya yang bisu, buta, tuli dan lumpuh. Pantaslah dengan mudahnya dia menawarkan putrinya yang bisu, buta, tuli dan lumpuh kepada orang yang belum dia kenal.

Bagaimana mungkin saya harus kawin dengan seorang yang bisu, buta, tuli dan lumpuh. Apakah demikian besar dosa yang saya lakukan, sehingga saya harus menebusnya dengan mengawani seorang yang bisu, buta, tuli dan lumpur. Hanya gara-gara memakan sebuah apple yang tidak diurus, saya harus menanggung “azab” untuk merawat seorang yang bisu, buta, tuli dan lumpuh. Pikiran sang musyafir berkecamuk mendapat jawaban sang pemilik buah yang demikian tidak dia duga.

Demi untuk mendapatkan kehalalan atas buah apple yang telah dimakannya, maka dia menyetujui persyaratan sang pemilik buah untuk mengawini putrinya yang bisu, buta, tuli dan lumpuh.

Maka dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk acara perkawinan. Setelah acara ijab kabul, maka oleh mertuanya sang pemilik perkebunan, dia diantar kekamar dimana putri sang pemilik buah yang sekarang menjadi istrinya.

Sesampainya di depan pintu kamar istrinya, dia mengucapkan salam:

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatu”

Sebagai seorang muslim, maka sudah seharusnya dia mengucapkan salam, sekalipun dia tahu bahwa didalam tidak akan ada yang menjawab, apakah karena tidak ada orangnya atau memang tidak akan didengar karea tuli.

“Wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu”

Alangkah tersentaknya sang musyafir medengar suara merdu seorang perempuan dari dalam. Suara siapakah itu? Setahunya di dalam hanya istrinya seorang.

Kemudian dia melangkah kedalam kamar untuk menemui istrinya yang belum pernah dilihatnya sama sekali. Apa yang didapatkannya, seorang perempuan dengan paras yang cantik menghampirinya dengan mata yang demikian indahnya menatap dirinya.

Ini perempuan tidak bisu, tidak buta, tidak tuli dan tidak lumpuh. Padahal mertuanya mengatakan istrinya bisu, buta, tuli dan lumpuh.

“Kamu siapa?” Tanya sang musyafir

“Aku adalah istrimu” jawab perempuan itu.

“Bagaimana bisa engkau istriku, sedangkan istriku adalah seorang yang bisu, buta, tuli dan lumpuh”

“Aku bisu, karena aku tidak pernah mengucapkan kata-kata yang tidak berguna, tidak suka bergunjing, tidak mengucapkan sesuatu yang tidak membawa manfaat. Aku tidak ingin ucapanku menyakiti orang lain, aku tidak ingin ucapanku membuat orang lain menderita. Karena itulah ayahku mengatakan aku seorang yang bisu”

“Aku buta, karena aku tidak pernah menggunakan mataku untuk melihat hal-hal yang dilarang oleh agama. Aku hanya menggunakan mataku untuk melihat kebesaran Allah. Karena itu ayahku mengatakan aku seorang yang buta”

“Aku tuli, karena aku tidak pernah ingin mendengarkan hal-hal yang tidak membawa manfaat. Aku tidak pernah mendengarkan pembicaraan yang membawa mudarat. Karena itu ayahku mengatakan aku tuli”

“Aku lumpuh, karena aku tidak ingin bepergian hanya untuk kesenangan, yang tidak tentu arah dan tujuan. Aku hanya mengunakan kakiku untuk hal-hal yang disyariatkan oleh Allah. Karena itu ayahku mengatakan aku seorang yang lumpuh”

Mendengar penjelasan istrinya, maka terbukalah mata hatinya.

Ternyata istrinya adalah seorang yang bisu, buta, tuli dan lumpuh dari segala sesuatu perbuatan yang tidak mendapatkan ridha Allah. Ternyata istrinya adalah seorang perempuan yang solihah, yang menggunakan hidupnya semata untuk Allah swt.

Ternyata juga, sang pemilik kebun menginginkan sang musyafir untuk mengawini putrinya adalah karena dia tahu bahwa sang musyafir adalah seorang yang soleh. Hanya karena sebuah apple, dia rela menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Ternyata anak keturunannya adalah orang-orang yang telah berjasa dalam sejarah Islam dalam pengumpulan hadist-hadist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: