abunawas memilih jalan

Siapa yang tak kenal Abunawas, sufi cerdik yang ‘nakal’, namun tahu semua jawaban? Semua orang di penjuru negeri mengenalnya. Ia dekat dengan Raja Harun Al Rasyid, tetapi lebih senang menghabiskan waktunya untuk bergaul dengan orang-orang badui.Ini salah satu kisahnya tentang cara memilih jalan;
Alkisah di mulut sebuah hutan ada sebuah rumah yang dihuni oleh sepasang saudara kembar yang tak bisa dibedakan oleh siapapun . Orang mengenal mereka sebagai pribadi-pribadi yang sangat berlawanan: yang satu selalu berkata jujur, yang lainnya selalu berbohong. Tapi mereka punya kesamaan unik -selain tampilan fisik sebagai pasangan kembar identik tentunya-, yaitu: tak suka bercakap-cakap, dan hanya mau menjawab satu pertanyaan saja.
Suatu hari rumah si Kembar kedatangan rombongan turis. Rombongan ini ingin berekreasi ke hutan wisata, tetapi di tengah jalan mereka menemukan persimpangan yang membingungkan. Konon hutan wisata tersebut bertetangga dengan hutan liar yang dihuni hewan buas. Tak ingin keliru memasuki hutan liar, turis-turis ini memutuskan untuk bertanya pada satu-satunya penghuni kawasan hutan tersebut, yaitu si Kembar. Pemimpin rombongan sudah mendengar tentang keunikan si Kembar, terutama tentang aturan ’satu pertanyaan’ itu. Itu sebabnya ia menyertakan si cerdik Abunawas dalam rombongan ini.
Abunawas mengetuk pintu rumah si Kembar. Dari kejauhan, teman-temannya dapat melihat bahwa salah seorang dari si Kembar itu -entah yang mana- membuka pintu, lalu berkata dengan tegas: “Hanya satu pertanyaan, ya!”
Abunawas mendekatkan dirinya pada salah satu dari si Kembar itu, berbisik-bisik, dan si penghuni rumah pun menjawabnya dengan bisik-bisik pula. Percakapan bisik-bisik itu terlalu singkat, dan pintu rumah si Kembar itu tampaknya juga terlalu cepat ditutup kembali. Namun Abunawas tampak terlalu mantap untuk mengatakan pada teman-temannya bahwa ‘hutan wisata ada di jalur sebelah kanan’. Tentu saja semua orang bertanya-tanya, bagaimana Abunawas bisa begitu yakin bahwa tujuan mereka benar-benar ada di jalur kanan?
“Aku yakin kita harus menempuh jalur kanan, karena orang yang kutanya tadi menunjukkan jalan sebelah kiri”, jawab Abunawas.
“Bagaimana kau begitu yakin? Bukankah engkau tidak tahu si Kembar yang jujur atau pembohongkah yang tadi kau jumpai, lebih-lebih kesempatanmu hanya satu pertanyaan?”, mereka bertanya lagi.
“Sebenarnya satu pertanyaan yang bagus itu sangat cukup,” jawab Abunawas.
“Aku tadi bertanya: Apa yang akan dikatakan saudaramu bila aku tanyakan padanya jalan mana yang menuju hutan wisata?”, kata Abunawas. Ia lalu melanjutkan:
“Bila jalan yang benar adalah jalur kanan, dan yang kujumpai tadi adalah si Jujur, ia akan berkata “jalur kiri”, karena itulah yang akan dikatakan saudaranya yang pembohong. Tapi bila ia adalah si Pembohong, ia pun akan menjawab “jalur kiri”, sebagai kebalikan dari jawaban saudaranya yang jujur. Dengan begitu kita tahu bahwa jalan yang ingin ditunjukkan si Jujur adalah yang kanan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: