ESENSI PUASA

Esensi puasa adalah proses penyadaran terhadap manusia itu sendiri. Dengan puasa, manusia merileksasikan seluruh anggota tubuhnya untuk melaksanakan kewajibannya dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Puasa tidak dinilai oleh orang lain. Puasa dinilai oleh diri sendiri dan oleh Tuhannya. Kita bisa saja bilang puasa ke orang, tapi masuk kamar lalu makan,terus ke luar kamar bilang puasa. Tapi esensi puasa adalah mengerjakan perintah-Nya tanpa diketahui oleh orang lain, hanya kita sendiri & Tuhan yang tahu. Dalam konteks itu, maka akan ada garis antara diri kita sebagai manusia dan Tuhan sebagai pencipta manusia.

Proses Ramadhan adalah proses penyadaran diri sesadar-sadarnya bahwa kita adalah insan yang diciptakan oleh Tuhan. Ada prosesnya dalam penyadaran itu, prosesnya adalah menahan Nafsu, dahaga, dan lapar. Tetapi intinya Nafsiah. Nafsiah artinya seluruh tubuh dari mulai sel, panca indra mata, telinga, jari tangan. Itu seluruhnya dikendalikan. Sehingga banyak aturannya. Melihat sesuatu yang tidak baik, membicarakan sesuatu yang tidak baik, meraba sesuatu yang tidak baik, itu semua bisa menjadi makruh, mubah, atau batal. Kenapa ada aturan itu? Kenapa ribet-ribet amat sih puasa itu, ga boleh makan, ga boleh minum, ga boleh melihat yang buruk-buruk, ga boleh ini, ga boleh itu. Puasa tidak hanya dilakukan oleh umat islam. Orang budha, hindu, yahudi, Kristen, melakukan puasa juga dengan aturan masing-masing. Orang budha bahkan melakukan puasa & meditasi bisa sampai 41 hari untuk menetralisir diri. Menetralisir diri itu diperlukan oleh kita sebagai makhluk karena itu adalah proses mengenal diri sendiri, mengenal alam, dan mengenal Allah SWT. Kenapa harus pada keadaan kosong? Karena saat kosong, energi kita mengendalikan dirinya sendiri, yang tadinya tersimpan jadi harus keluar. Dalam hal ini, dari sahur sampai berbuka ada proses menahan, tidak boleh makan & minum. Sehingga pada saat kita kehausan, yang bekerja adalah diri sendiri yaitu sel dan tubuh kita. Pada saat itulah terjadi koneksi.
Ada ungkapan pada saat bulan puasa, setan-setan di belenggu. Itu simbolik. Siapa yang membelenggunya, Apakah Tuhan? Bukan. Yang membelenggunya adalah kita sendiri. Apa yang dimaksud setan-setan itu adalah Nafs. Nafs itu penggoda-penggoda, dorongan-dorongan, keinginan-keinginan, harapan-harapan, yang membelokan diri manusia. Maka bisa dikalkulasikan bahwa nafs itu adalah setan. Proses itu yang berat di dalam Puasa Ramadhan. Proses mengendalikan Nafs.

Apa titik final dari itu? Allah suka kesucian dan keindahan, maka Allah itu suka pengendalian. ‘’Jika engkau ingin mendekati Aku, jadilah seperti Aku’’, kata Allah. Jika Allah Rahman & Rahim (pengasih & penyanyang) maka kita harus Rahman & Rahim. Jika Allah maha indah, maka kita harus indah. Berselarasan. Bayangkan kita sebagai makhluk energi, lalu mendekati sumber energi, maka tidak akan ada seorang pun yang membatasi kemapanan energi kita, karena sudah dekat dengan sumber energi. Inti dari kajian kehidupan kita adalah mendekati Sang Maha energi supaya menyerupai sifatnya. Karena ‘’Sifat-Ku’’, kata Allah, ada dalam dirimu. Maka Allah mendidik kita di satu bulan yang luar biasa ini yang disebut bulan Ramadhan. Dididik bukan puasanya, karena puasa hanya ikhtiar, tetapi Hasilnya, yaitu Pengendalian. Kata Rosul, banyak yang puasa hanya mendapat lapar dan hausnya saja, tanpa mendapatkan esensinya.

Jadikan Ramadhan itu sebagai sumber pengendalian, sumber penghambaan & sumber pengetahuan untuk mengetahui Yang Maha Mengeahui.